Emas Tak Didapat SEX , Istri Orang Diperkosa

Desa Kepayang Simpang Aspa, Kecamatan Bayung Lencir, Kabupaten Musibanyuasin, Sumatra Selatan, dikenal sebagai desa yang tenang dan damai. Baru-baru ini, kedamaian itu terusik akibat perampokan beruntun terhadap warga setempat. Tak sekadar merampok, pelaku juga memperkosa korbannya.

Korban perampokan itu adalah keluarga Supriyono dan Basir. Rumah keduanya bersebelahan. Kedua keluarga ini sampai sekarang masih memendam luka mendalam terutama istri-istri mereka yang diperkosa secara bergiliran oleh para perampok. Su, diperkosa secara bergiliran di depan suaminya, Supriyono. Sedangkan Supriyono disandera dengan ancaman samurai. Supriyono tak bisa menyelamatkan sang istri karena harus melindungi anaknya yang balita.

Sedangkan Ju, istri Basir, diperkosa¬† di belakang rumah. Trauma mendalam hingga kini masih dirasakan Ju. Bahkan ia sampai sekarang masih tak bernafsu makan. “Ya rasanya ginilah. Perasaan saya di rumah nggak enak, makan nggak enak. Kalo nggak dipaksa sama ibu saya pokoknya nggak enak,” tutur Ju lirih.

Menurut para korban, jumlah perampok yang beraksi sekitar pukul 03.30 WIB itu adalah lima orang. Mereka mengancam para korban dengan senjata api, samurai, dan pisau. Mereka beraksi sangat cepat sehingga para korban tak berkutik.

Para tersangka mudah ditangkap karena Basir mengenali beberapa anggota kawanan perampok tersebut. Polisi pertama kali meringkus Sainuri. Ia diringkus saat pergi ke sebuah warung untuk membeli susu anaknya. Penangkapan Sainuri itu kemudian membuka jalan untuk menangkap Aleksandra, tersangka lainnya. Sedangkan tiga lainnya masih buron.

Menurut Kapolres Musibanyuasin Ajun Komisaris Besar Polisi MS Siregar, kasus perampokan dan pemerkosaan dapat terungkap karena para korban cepat melapor ke Pos Satuan Polisi Air dan Udara Bayung Lencir. Kasus tersebut kemudian ditindaklanjuti reserse polsek setempat. “Namun, karena kendala geografis tiga tersangka lainnya belum tertangkap,” kata Siregar.

Yang cukup mengejutkan, dua tersangka yang tertangkap masih berusia muda. Aleksandra masih berusia tujuh belas tahun. Ia sehari-hari bekerja sebagai pembersih dahan pada perkebunan kelapa sawit PT PWS yang hanya berjarak beberapa kilometer dari rumah korban. Aleksandra mengaku ikut memperkosa karena dipaksa temannya, Ardi, yang kini masih buron bersama Kanang dan Jono. “Aku menuruti saja karena takut pada Ardi,” kata Aleksandra.

Sedangkan Sainuri berusia 21 tahun. Ia mengaku tidak ikut memperkosa. Saat itu Sainuri yang juga bekerja di perkebunan yang sama hanya berjaga-jaga di depan rumah korban untuk mengamati situasi.

Seluruh tersangka termasuk yang masih buron adalah pekerja PT PWS. Para tersangka kini bukan hanya menghadapi ancaman penjara tetapi juga dipecat pemilik perkebunan. Bahkan keluarga para tersangka juga harus menanggung akibatnya. Mereka yang selama ini menempati perumahan di sekitar perkebunan diusir manajemen PT PWS.

Aksi perampokan berawal dari berkumpulnya Ardi, Jono, Kanang, Aleksandra, dan Sainuri di sebuah warung. Mereka kemudian menenggak minuman tradisional beras kencur. Pertama kali dua botol dan lama-lama menghabiskan lima botol. Beras kencur tersebut dibelikan seorang sopir angkutan yang pusing karena uang setoran untuk majikannya tak memenuhi target SEX  .

Dalam kondisi mabuk, Ardi kemudian mengajak temannya ke kawasan Simpang Aspa. Di desa tersebut menurut Ardi tengah berlangsung sebuah hiburan muda-mudi. Setelah sampai di tujuan, acara tersebut ternyata tidak ada. Nmun, kelima pemuda itu bukannya kembali ke tempat semula tapi justru menyatroni rumah keluarga Supriyono.

Menurut Supriyono, para perampok mendobrak pintu dan langsung masuk ke kamar sambil menebas kelambu dengan samurai. Supriyono yang sedang tidur bersama istri dan anaknya yang berusia satu tahun kontan kaget. Para perampok langsung menodongkan senjata api, samurai, dan pisau.

Para perampok kemudian meminta Supriyono dan istrinya menyerahkan uang dan perhiasan. Mereka yang dikomandani Ardi kemudian menggeledah lemari dan seisi rumah. Uang Rp 20 ribu dan jam tangan yang dikenakan Supriyono kemudian dirampas.

Merasa kurang puas dengan hasil rampokan, para perampok kemudian menyeret Su. Mereka langsung memperkosanya secara bergiliran di depan Supriyono. Saat sang istri diperkosa secara bergiliran hingga pingsan, Supriyono tak mampu berbuat banyak karena berada dalam ancaman samurai.

Setelah beraksi di rumah Supriyono, kawanan perampok itu melanjutkan aksinya di rumah Basir yang letaknya bersebelahan. Kali ini mereka yakin akan memperoleh emas dan uang yang diincar. Karena pelaku telah mengenal Basir, mereka tidak merasa perlu mencongkel pintu rumah. Mereka mengetuk-ngetuk pintu seperti layaknya bertamu.

Saat membuka pintu, Basir langsung ditodong senjata api dan diseret ke belakang rumah SEX . Sebagian perampok menyeret Basir dan istrinya. Sebagian lagi menggeladah rumah. Mereka tetap meminta emas dan uang dari Basir. Namun, emas yang dicari itu tidak diperoleh karena Basir sempat mengamankannya dengan cara diduduki. Sedangkan istrinya sempat menawarkan anting yang dikenakannya seberat dua gram. Namun, para perampok itu tetap kecewa dan mereka akhirnya menyeret Ju ke belakang rumah. Mereka kemudian memperkosa ramai-ramai persis seperti yang dialami Su.

Ju dan Su kini mengalami trauma yang sangat berat hingga jiwanya terguncang. Sementara polisi kini masih mengejar tiga tersangka yang masih buron. Sedangkan dua tersangka Aleksandra dan Sainuri dengan wajah bengkak dan membiru kini harus mendekam di tahanan polisi.(YYT/Tim Derap Hukum)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *